Reog(Ponorogo)
Reog adalah
salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian
barat-laut dan Ponorogao dianggap
sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Gerbang kota Ponorogo dihiasi oleh
sosok warok dan gemblak, dua sosok
yang ikut tampil pada saat reog dipertunjukkan. Reog adalah salah satu budaya
daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistik
dan ilmu kebatinan yang kuat.
Sejarah
Pertunjukan reog di Ponorogo tahun 1920. Selain reog, terdapat pula penari kuda kepang dan bujangganong.
Pertunjukan reog di Ponorogo tahun 1920. Selain reog, terdapat pula penari kuda kepang dan bujangganong.
Ada lima
versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Reog dan
Warok, namun
salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Agung Kutu, seorang
abdi kerajaan pada masa Bhre Kertabhumi, Raja Majapahit terakhir
yang berkuasa pada abad ke-15. Ki Agung Kutu murka akan
pengaruh kuat dari pihak istri raja Majapahit yang
berasal dari Cina, selain itu
juga murka kepada rajanya dalam pemerintahan yang korup, ia pun melihat bahwa
kekuasaan Kerajaan Majapahit akan
berakhir. Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan di mana ia
mengajar seni bela diri kepada anak-anak muda, ilmu kekebalan diri, dan ilmu
kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari
kebangkitan kerajaan Majapahit kembali. Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil
untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan
melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan "sindiran"
kepada Raja Kertabhumi dan
kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan
masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.
Dalam
pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai
"Singa Barong", raja
hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabhumi, dan diatasnya ditancapkan
bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat
para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Jatilan, yang
diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi
kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi
perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut
merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat
topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50 kg hanya dengan menggunakan
giginya . Kepopuleran Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Bhre Kertabhumi mengambil tindakan dan menyerang
perguruannya, pemberontakan oleh warok dengan
cepat diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun
murid-murid Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam. Walaupun
begitu, kesenian Reognya sendiri masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena
sudah menjadi pertunjukan populer di antara masyarakat, namun jalan ceritanya
memiliki alur baru di mana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat
Ponorogo yaitu Kelono Sewandono, Dewi Songgolangit, dan Sri Genthayu.
Versi resmi
alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat
melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun di tengah perjalanan ia dicegat
oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak
dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono
dan Wakilnya Bujang Anom, dikawal oleh warok (pria
berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam
mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediei dan
Kerajaan Ponorogo, dan
mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan
"kerasukan" saat mementaskan tariannya.
Hingga kini
masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka
sebagai warisan budaya yang sangat kaya. Dalam pengalamannya Seni Reog
merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk adanya aliran kepercayaan yang
ada secara turun temurun dan terjaga. Upacaranya pun menggunakan syarat-syarat
yang tidak mudah bagi orang awam untuk memenuhinya tanpa adanya garis keturunan
yang jelas. mereka menganut garis keturunan Parental dan hukum adat yang masih
berlaku.
Pementasan
Seni Reog
Reog
Ponorogo : Reog modern biasanya dipentaskan dalam beberapa peristiwa seperti
pernikahan, khitanan dan hari-hari besar Nasional. Seni Reog Ponorogo terdiri
dari beberapa rangkaian 2 sampai 3 tarian pembukaan. Tarian pertama biasanya
dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam, dengan muka
dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani.
Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Pada
reog tradisionil, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang
berpakaian wanita. Tarian ini dinamakan tari jaran kepangatau
jathilan, yang harus dibedakan dengan seni tari lain yaitu tari kuda lumping.
Tarian
pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang
membawakan adegan lucu yang disebut Bujang Ganong atau Ganongan.
Setelah
tarian pembukaan selesai, baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung
kondisi dimana seni reog ditampilkan. Jika berhubungan dengan pernikahan maka
yang ditampilkan adalah adegan percintaan. Untuk hajatan khitanan atau sunatan,
biasanya cerita pendekar,
Adegan dalam
seni reog biasanya tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi. Disini selalu
ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongan) dan
kadang-kadang dengan penonton. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas
dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan. Yang lebih
dipentingkan dalam pementasan seni reog adalah memberikan kepuasan kepada
penontonnya.
Adegan
terakhir adalah singa barong, dimana
pelaku memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari
bulu burung merak. Berat
topeng ini bisa mencapai 50-60 kg. Topeng yang berat ini dibawa oleh penarinya
dengan gigi. Kemampuan untuk membawakan topeng ini selain diperoleh dengan
latihan yang berat, juga dipercaya diproleh dengan latihan spiritual seperti puasa dan tapa.
Tokoh-tokoh
dalam seni Reog
Ø Jathil
Jathil adalah prajurit berkuda dan merupakan salah satu tokoh dalam seni Reog. Jathilan merupakan tarian yang menggambarkan ketangkasan prajurit berkuda yang sedang berlatih di atas kuda. Tarian ini dibawakan oleh penari di mana antara penari yang satu dengan yang lainnya saling berpasangan. Ketangkasan dan kepiawaian dalam berperang di atas kuda ditunjukkan dengan ekspresi atau greget sang penari.
Jathil adalah prajurit berkuda dan merupakan salah satu tokoh dalam seni Reog. Jathilan merupakan tarian yang menggambarkan ketangkasan prajurit berkuda yang sedang berlatih di atas kuda. Tarian ini dibawakan oleh penari di mana antara penari yang satu dengan yang lainnya saling berpasangan. Ketangkasan dan kepiawaian dalam berperang di atas kuda ditunjukkan dengan ekspresi atau greget sang penari.
Jathilan ini
pada mulanya ditarikan oleh laki-laki yang halus, berparas ganteng atau mirip
dengan wanita yang cantik. Gerak tarinya pun lebih cenderung feminin. Sejak
tahun 1980-an ketika tim kesenian Reog Ponorogo hendak dikirim ke Jakarta untuk
pembukaan PRJ (Pekan Raya Jakarta), penari jathilan diganti oleh para penari
putri dengan alasan lebih feminin. Ciri-ciri kesan gerak tari Jathilan pada
kesenian Reog Ponorogo lebih cenderung pada halus, lincah, genit. Hal ini
didukung oleh pola ritmis gerak tari yang silih berganti antara irama mlaku
(lugu) dan irama ngracik.
Mereka
digambarkan sebagai prajurit wanita yang cantik dan berani. Kostum yang
dikenakan penari Jathil adalah kemeja satin putih sebagai atasan dan jarit
batik sebagai bawahan. Mereka mengenakan udheng sebagai
penutup kepala dan mengendarai kuda kepang (kuda-kudaan yang terbuat dari
anyaman bambu).
·
Celana dingkikkan
·
Jarit parang barong
·
Boro-boro samir
·
Stagen
·
Epek timang
·
Sampur merah dan kuning
·
Hem putih lengan
panjang
·
Kace
·
Gulon ter
·
Srempang
·
Binggel
Ø Warok
"Warok" yang berasal dari kata wewarah
adalah orang yang mempunyai tekad suci, memberikan tuntunan dan perlindungan
tanpa pamrih. Warok adalah wong kang sugih wewarah (orang yang kaya akan
wewarah). Artinya, seseorang menjadi warok karena mampu memberi petunjuk atau
pengajaran kepada orang lain tentang hidup yang baik.Warok iku wong kang wus
purna saka sakabehing laku, lan wus menep ing rasa (Warok adalah orang yang
sudah sempurna dalam laku hidupnya, dan sampai pada pengendapan batin).
Warok
merupakan karakter/ciri khas dan jiwa masyarakat Ponorogo yang telah mendarah
daging sejak dahulu yang diwariskan oleh nenek moyang kepada generasi penerus.
Warok merupakan bagian peraga dari kesenian Reog yang tidak terpisahkan dengan
peraga yang lain dalam unit kesenian Reog Ponorogo. Warok adalah seorang yang
betul-betul menguasai ilmu baik lahir maupun batin.
Warok
adalah pasukan Kelono Sewandono yang digambarkan sebagai orang yang sakti
mandraguna dan kebal terhadap senjata tajam. Penari warok adalah pria dan
umumnya berbadan besar. Warok dibagi menjadi dua, yaitu warok tua dan warok
muda. Perbedaan mereka terletak pada kostum yang dikenakan, dimana warok tua
mengenakan kemeja putih, sedangkan warok muda tidak mengenakan apa-apa selain
penadhon dan tidak membawa tongkat. Senjata pamungkas para warok adalah tali
kolor warna putih yang tebal. mengenakan baju hitam-hitam (celana gombrong
hitam dan baju hitam yang tidak dikancingkan) yang disebut *Penadhon.
·
Celana kombor hitam
·
Jarit latar ireng
·
Stagen
·
Epek timang
·
Kolor
·
Udeng / iket =>
modang, jinjen ( warok tua ) dan tapak doro, debleng mondholan ( warok muda)
·
Waktung
·
Keris
·
Hem putih lengan
panjang
·
Jam kantong ( jam
gandul )
·
Tongkat
·
Sandal
Ø
Barongan(Dadak_merak)
Barongan (Dadak merak) merupakan peralatan tari yang paling dominan dalam kesenian Reog Ponorogo. Bagian-bagiannya antara lain; Kepala Harimau (caplokan), terbuat dari kerangka kayu, bambu, rotan ditutup dengan kulit Harimau Gembong. Dadak merak, kerangka terbuat dari bambu dan rotan sebagai tempat menata bulu merak untuk menggambarkan seekor merak sedang mengembangkan bulunya dan menggigit untaian manik - manik (tasbih). Krakap terbuat dari kain beludru warna hitam disulam dengan monte, merupakan aksesoris dan tempat menuliskan identitas group reog. Dadak merak ini berukuran panjang sekitar 2,25 meter, lebar sekitar 2,30 meter, dan beratnya hampir 50 kilogram.
Barongan (Dadak merak) merupakan peralatan tari yang paling dominan dalam kesenian Reog Ponorogo. Bagian-bagiannya antara lain; Kepala Harimau (caplokan), terbuat dari kerangka kayu, bambu, rotan ditutup dengan kulit Harimau Gembong. Dadak merak, kerangka terbuat dari bambu dan rotan sebagai tempat menata bulu merak untuk menggambarkan seekor merak sedang mengembangkan bulunya dan menggigit untaian manik - manik (tasbih). Krakap terbuat dari kain beludru warna hitam disulam dengan monte, merupakan aksesoris dan tempat menuliskan identitas group reog. Dadak merak ini berukuran panjang sekitar 2,25 meter, lebar sekitar 2,30 meter, dan beratnya hampir 50 kilogram.
Pembarong
adalah penari yang memiliki peranan paling penting dalam tari Reog Ponorogo.
Pembarong adalah penari yang nantinya akan membawa Dadak Merak (topeng kepala
singa dengan hiasan burung merah dan bulunya di atas kepala singa) yang
tingginya satu setengah meter. Pembarong mengenakan celana panjang hitam dan
baju kimplong (baju yang hanya punya satu cantelan bahu) dan harus menggigit
kayu di bagian dalam kepala singa untuk mengangkat Dadak Merak. Seorang
pembarong haruslah orang yang sangat kuat, karena dia harus bisa menundukkan
Dadak Merak hingga menyentuh lantai dan mengangkatnya lagi ke posisi tegak.
Dadak Merak disimbolkan sebagai Singobarong, dan secara umum Dadak Merak inilah
yang membuat tari Reog Ponorogo menjadi sangat unik, karena bentuk topengnya
yang sangat besar dan khas serta adanya filosofi di dalamnya. Karena itu,
pembarong benar-benar harus memiliki keterampilan dan kemampuan yang tinggi
agar bisa menghidupkan Singobarong yang dimainkannya.
Ø
Klono_Sewandono
Klono Sewandono atau Raja Kelono adalah seorang raja sakti mandraguna yang memiliki pusaka andalan berupa Cemeti yang sangat ampuh dengan sebutan Kyai Pecut Samandiman kemana saja pergi sang Raja yang tampan dan masih muda ini selalu membawa pusaka tersebut. Pusaka tersebut digunakan untuk melindungi dirinya. Kegagahan sang Raja di gambarkan dalam gerak tari yang lincah serta berwibawa, dalam suatu kisah Prabu Klono Sewandono berhasil menciptakan kesenian indah hasil dari daya ciptanya untuk menuruti permintaan Putri (kekasihnya). Karena sang Raja dalam keadaan mabuk asmara maka gerakan tarinyapun kadang menggambarkan seorang yang sedang kasmaran.
Klono Sewandono atau Raja Kelono adalah seorang raja sakti mandraguna yang memiliki pusaka andalan berupa Cemeti yang sangat ampuh dengan sebutan Kyai Pecut Samandiman kemana saja pergi sang Raja yang tampan dan masih muda ini selalu membawa pusaka tersebut. Pusaka tersebut digunakan untuk melindungi dirinya. Kegagahan sang Raja di gambarkan dalam gerak tari yang lincah serta berwibawa, dalam suatu kisah Prabu Klono Sewandono berhasil menciptakan kesenian indah hasil dari daya ciptanya untuk menuruti permintaan Putri (kekasihnya). Karena sang Raja dalam keadaan mabuk asmara maka gerakan tarinyapun kadang menggambarkan seorang yang sedang kasmaran.
Prabu
Kelono Sewandono ini adalah tokoh utama dalam tari Reog Ponorogo. Beliau
digambarkan sebagai seorang Raja yang gagah berani dan bijaksana, digambarkan
sebagai manusia dengan sayap dan topeng merah. Beliau memiliki senjata
pamungkas yang disebut Pecut Samandiman.
·
Cinde Merah ( celana )
·
Jarit
·
Boro-boro samir
·
stagen
·
Epek timang
·
Sampur
·
Uncal
·
Kalung lur
·
Cakep
·
Klat bahu
·
Probo
·
Keris Blangkrak /
Ladrang
·
Binggel
Ø
Bujang_Ganong(Ganongan)
Bujang Ganong (Ganongan) atau Patih Pujangga Anom adalah salah satu tokoh yang enerjik, kocak sekaligus mempunyai keahlian dalam seni bela diri sehingga disetiap penampilannya senantiasa di tunggu - tunggu oleh penonton khususnya anak - anak. Bujang Ganong menggambarkan sosok seorang Patih Muda yang cekatan, berkemauan keras, cerdik, jenaka dan sakti.
Bujang Ganong (Ganongan) atau Patih Pujangga Anom adalah salah satu tokoh yang enerjik, kocak sekaligus mempunyai keahlian dalam seni bela diri sehingga disetiap penampilannya senantiasa di tunggu - tunggu oleh penonton khususnya anak - anak. Bujang Ganong menggambarkan sosok seorang Patih Muda yang cekatan, berkemauan keras, cerdik, jenaka dan sakti.
Patih
bujangganong adalah patih dari Prabu Kelono Sewandono, merupakan tokoh
protagonis dalam tarian ini. Dia digambarkan sebagai patih yang bertubuh kecil
dan pendek, namun cerdik dan lincah. Patih Bujangganong disebut juga penthulan.
Penarinya tidak memakai baju, hanya rompi berwarna merah dan topeng berwarna
merah juga.
·
Celana dingkikkan
·
Embong gombyog
·
Stagen
·
Epek timang
·
Sampur merah dan kuning
·
Rompi merah garis hitam
·
Binggel
Analisis
Musicalitas Kesenian reog menggunakan dogdog (gendang) yang
ditabuh,diiringi oleh gerak tari yang lucu dan lawak oleh para
pemainnya.Biasanya disampaikan dengan pesan-pesan sosial dan keagamaan.Kesenian
reog dimainkan oleh empat orang, yaitu seorang dalang yangmengendalikan
permainan, wakilnya dan ditambah oleh dua orang lagisebagai pembantu. Dalang
memainkan dogdog berukuran 20 cm atau 8cm disebut dogdog Tilingtingtit.
Wakilnya memegang dogdog yangberukuran 25 cm yang
disebut Panempas, pemain ketiga menggunakandogdog ukuran 30-35 cm yang disebut
Bangbrang dan pemain keempatmemegang dogdog ukuran 45 cm yang disebut Badublag.
Kontroversi
Tarian sejenis Reog Ponorogo yang ditarikan di Malaysia dinamakan Tari Barongan tetapi memiliki unsur Islam. Tarian ini juga menggunakan topeng dadak merak, yaitu topeng berkepala harimau yang di atasnya terdapat bulu-bulu merak. Deskripsi dan foto tarian ini ditampilkan dalam situs resmi Kementrian Kebudayaan Kesenian dan Warisan Malaysia.
Tarian sejenis Reog Ponorogo yang ditarikan di Malaysia dinamakan Tari Barongan tetapi memiliki unsur Islam. Tarian ini juga menggunakan topeng dadak merak, yaitu topeng berkepala harimau yang di atasnya terdapat bulu-bulu merak. Deskripsi dan foto tarian ini ditampilkan dalam situs resmi Kementrian Kebudayaan Kesenian dan Warisan Malaysia.
Kontroversi
timbul karena pada topeng dadak merak di situs resmi tersebut terdapat tulisan
"Malaysia", dan diakui sebagai warisan masyarakat keturunan Jawa yang
banyak terdapat di Batu Pahat, Johor dan Selangor, Malaysia.
Hal ini memicu protes berbagai pihak di Indonesia, termasuk
seniman Reog asal Ponorogo yang menyatakan bahwa hak cipta kesenian Reog telah
dicatatkan dengan nomor 026377 tertanggal 11 Februari 2004, dan dengan demikian
diketahui oleh Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia. Ditemukan
pula informasi bahwa dadak merak yang terlihat di situs resmi tersebut adalah
buatan pengrajin Ponorogo. Ribuan seniman Reog sempat berdemonstrasi di depan
Kedutaan Malaysia di Jakarta.Pemerintah Indonesia menyatakan akan meneliti
lebih lanjut hal tersebut.
Pada akhir
November 2007, Duta Besar Malaysia untuk Indonesia Datuk Zainal Abidin Muhammad
Zain menyatakan bahwa Pemerintah Malaysia tidak pernah mengklaim Reog Ponorogo
sebagai budaya asli negara itu. Reog yang disebut “Barongan” di Malaysia dapat
dijumpai di Johor dan Selangor, karena dibawa oleh rakyat Jawa yang merantau ke
negeri tersebut sebelum penubuhan Indonesia, menjadikan migran itu tidak pernah
menjadi rakyat Indonesia.
Busana Penari Reog Ponorogo

Cerita
reog yang terkandung di dalam reog ponorogo mengambil kisah Panji. Ceritanya
berkisar tentang perjalanan Prabu Kelana Sewandana mencari gadis pujaannya,
ditemani prajurit berkuda dan patihnya yang setia, Bujangganong. Ketika pilihan
sang prabu jatuh pada putri Kediri, Dewi Sanggalangit, sang dewi memberi syarat
bahwa ia akan menerima cintanya apabila sang prabu bersedia menciptakan sebuah
kesenian baru. Maka terciptalah reog ponorogo. Gerakan-gerakan dalam tari reog
ponorogo menggambarkan tingkah polah manusia dalam perjalanan hidup mulai
lahir, hidup, hingga mati. Filosofinya sangat dalam.
Kesimpulan
Sebenarnya Reog merupakan sebuah
kesenian yang memiliki nilai budaya yang tinggi dan unik untuk dimengerti.
Bentuk reog ponorogo sendiri ialah teater tari yang dilakukan oleh ± 18 orang
yang berpakaian sesuai dengan karakter dan watak masing masing. Pertunjukan
Reog diiringgi beberapa penabuh gamelan dan penyanyi yang membawakan lagu
dengan berbahasa daerah.
SEJARAH TARI SEUDATI (SALAH SATU TARIAN ACEH)
Tari seudati
ini adalah tarian yang dibawakan oleh delapan orang laki-laki selaku
penariutama.
Disamping
para penari di atas, ada pula dua orang penyanyi yang mengiringi tarian
yangdisebut aneuk syahi. Selain penari utama yang disebutkan tadi, untuk penari
pembantu tidak diwajibkan untuk memakai kostum-kostum seperti di atas.
Tari seudati sendiri konon sebenarnya sudah ada sejak dahulu kala di bagian
Aceh pesisirdengan nama tari ratoh atau ratoih, yakni sebuah tarian yang biasa
dipentaskan sebelummemulai acara sabung ayam, dan juga tari yang dimainkan di
malam bulan purnama untuk menyambut tibanya masa panen. Pendeknya, tari
ini memang pada awal perkembangannyamerupakan sebuah tarian untuk bersuka ria.
Dalam ratoh tersebut, banyak kisah dan ceritayang terkandung di dalamnya dari
kisah bahagia yang tercermin dari gerakannya yangdinamis atau kadang begitu
murung ketika bercerita tentang sebuah kesedihan. Pun begitudengan narrator
yang mengiringi tarian ini. Semua kisah yang berbaur itu disampaikandengan
bahasa Melayu dialek Aceh yang khas.
Dengan
demikian jelaslah bahwa tari seudati merupakan hasil dari akulturasi budaya
pascamasuknya Islam ke Aceh. Semua istilah yang semula dari budaya tempatan
berubah dandiubah menjadi nama-nama yang bernafaskan Islam. Istilah-istilah
islam atau Arab itutercermin dari istilah Syeh yang berarti pemimpin, Saman
yang berarti delapan, dan Syairyang berarti nyayian Selain itu, syair-syair
lagu pun dipresentasikan dalam bahasa Arab danbahasa daerah dengan memuat
pesan-pesan dakwah, sehingga pada akhirnya tarian inidijadikan sebagai media
dakwah untuk mengembangkan ajaran Islam. Tarian ini masih adahingga sekarang,
tetapi mengalami penambahan fungsi, yaitu sebagai media untuk menyampaikan
informasi tentang perkembangan pemerintahan serta sebagai media hiburan.Dengan
demikian, di masa-masa awal perkembangannya, tarian seudati berfungsi
sebagaimedia dakwah. Namun, dalam konteks kekinian, selain berfungsi sebagai
hiburan, tarian ini juga menyimbolkan kekayaan budaya Aceh sekaligus
sebagai media untuk menyampaikanpesan-pesan pembangunan kepada rakyat. Tarian
ini juga sering dipertandingkan dikenaldengan istilah Seudati Tunang yang
kadang-kadang berlangsung sampai menjelang subuh.(ebook Sejarah dan Asal Usul
Tari Seudati)Yang membuat saya terkesan dengan tarian ini adalah disamping
gerakan-gerakan tari yangdinamis dan lincah tapi bisa begitu saja berubah
menjadi sangat kaku dan terkesanmenampilkan sisi dingin seorang ksatria, juga
tarian ini sama sekali tak menyertakan alatmusik apapun sebagai pengiring dan
hanya mengandalkan nyanyian dari dua orang aneuk syahi dan beberapa
tepukan tangan di dada dan paha, hentakan kaki, dan jentikan jari darigerakan
sang penari itu sendiri.
Bagian-bagian
penting dalam tarian yang dikesankan sebagai pakem resmi dari tarian inisendiri
adalah antara lain likok (gaya; tarian), saman (melodi), irama kelincahan,
serta kisahyang menceritakan tentang kisah kepahlawanan, sejarah dan tema-tema
agama. Padaumumnya, tarian ini diperagakan di atas pentas dan dibagi menjadi
beberapa babak, antaralain: Babak pertama, diawali dengan saleum (salam)
perkenalan yang ucapkan oleh aneuk syahi, kemudian dibalas oleh syeikh.
Dalam babak awal ini sama sekali tak ada gerakan-gerakan dinamis dari si
penari. Baru pada babak berikutnyalah gerakan-gerakan lincah itumulai terasa
menghentak penonton
Kata ’seudati’ berasal dari akar kata syahadat
atau syahadatain yang bermakna pengakuan, dua perkara penyaksian. Di
dalam agama Islam, syahadat merupakan ikrar seseorang yang mengakui atau
memberikan saksi berketuhanan dan kepemimpinan. Para penyiar agama Islam di
bumi Serambi Mekah menggunakan tarian bernuansa agama sebagai metode penyebaran
pesan ilahi. Ada pula yang mengatakan bahwa kata seudati berasal dari
kata seurasi yang berarti harmonis atau kompak. Tarian ini dibawakan
dengan mengisahkan pelbagai macam masalah yang terjadi agar masyarakat tahu
bagaimana memecahkan suatu persoalan secara bersama. Pada mulanya tarian
seudati diketahui sebagai tarian pesisir yang disebut ratoh atau ratoih, yang
artinya menceritakan, diperagakan untuk mengawali permainan sabung ayam, atau
diperagakan untuk bersuka ria ketika musim panen tiba pada malam bulan purnama.
Dalam
ratoh, dapat diceritakan berbagai hal, dari kisah sedih, gembira, nasehat, sampai
pada kisah-kisah yang membangkitkan semangat. Ulama yang mengembangkan agama
Islam di Aceh umumnya berasal dari negeri Arab. Karena itu, istilah-istilah
yang dipakai dalam seudati umumnya berasal dari bahasa Arab. Diantaranya
istilah Syeh yang berarti pemimpin, Saman yang berarti delapan, dan Syair yang
berarti nyayian.
Jenis
tarian ini tidak menggunakan alat musik, tetapi hanya membawakan beberapa
gerakan, seperti tepukan tangan ke dada dan pinggul, hentakan kaki ke tanah dan
petikan jari. Gerakan tersebut mengikuti irama dan tempo lagu yang dinyanyikan.
Bebarapa gerakan tersebut cukup dinamis dan lincah dengan penuh semangat.
Namun, ada beberapa gerakan yang tampak kaku, tetapi sebenarnya memperlihatkan
keperkasaan dan kegagahan si penarinya. Selain itu, tepukan tangan ke dada dan
perut mengesankan kesombongan sekaligus kesatria.
BUSANA TARI SEUDATI
Busana
tarian seudati terdiri dari celana panjang dan kaos oblong lengan panjang yang
ketat, keduanya berwarna putih; kain songket yang dililitkan sebatas paha dan
pinggang; rencong yang disisipkan di pinggang; tangkulok (ikat kepala) yang
berwarna merah yang diikatkan di kepala; dan sapu tangan yang berwarna. Busana
seragam ini hanya untuk pemain utamanya, sementara aneuk syahi tidak harus
berbusana seragam. Bagian-bagian terpenting dalam tarian seudati terdiri dari
likok (gaya; tarian), saman (melodi), irama kelincahan, serta kisah yang
menceritakan tentang kisah kepahlawanan, sejarah dan tema-tema agama.
PEMENTASAN TARI SEUDATI
Biasanya,
kelompok pertama akan turun dari pentas. Babak kedua, dimulai dengan bak saman
, yaitu seluruh penari utama berdiri dengan membuat lingkaran di tengah-tengah
pentas guna mencocokkan suara dan menentukan likok apa saja yang akan
dimainkan. Syeikh berada di tengah-tengah lingkaran tersebut. Bentuk lingkaran
ini menyimbolkan bahwa masyarakat Aceh selalu muepakat (bermusyawarah) dalam
mengambil segala keputusan. Muepakat itu, jika dikaitkan dengan konteks tarian
ini, adalah bermusyawarah untuk menentukan saman atau likok yang akan
dimainkan.
Di
dalam likok dipertunjukkan keseragaman gerak, kelincahan bermain dan
ketangkasan yang sesuai dengan lantunan lagu yang dinyanyikan aneuk syahi .
Lantunan likok tersebut diawali dengan:
Seluruh
penari utama akan mengikuti irama lagu yang dinyanyikan secara cepat atau
lambat tergantung dengan lantunan yang dinyanyikan oleh aneuk syahi tersebut.
Fase lain adalah fase saman . Dalam fase ini beragam syair dan pantun saling
disampaikan dan terdengar bersahutan antara aneuk syahi dan syeikh yang diikuti
oleh semua penari. Ketika syeikh melontarkan ucapan:
walahuet
seuneut apet ee kataheee, hai syam,
maka
anek syahi akan menimpali dengan jawaban:
lom
ka dicong bak iboih, anuek puyeh ngon cicem subang.
Untuk
menghilangkan rasa jenuh para penonton, setiap babak ditutup dengan formasi
lanie, yaitu memperbaiki formasi yang sebelumnya sudah tidak beraturan.

Salah satu ciri yang paling menarik dari tarian khas Aceh
adalah dilakukan berkelompok secara solid dan variatif. Hampir tak ada tarian
Aceh yang dilakukan sendiri. Tari seudati merupakan satu dari sekian banyak
bukti kemegahan seni budaya Aceh yang dilakukan secara bersama penuh makna dan
atraktif.
Pertunjukan tari seudati sama memukaunya dengan
kubah-kubah tarian Aceh lainnya selain tari saman yang akan diakui dunia. Bila
ke Aceh, sempatkan datang pada waktu dan tempat yang tepat untuk sebuah "penyaksian"
yang menggetarkan sekaligus membanggakan Nusantara ini.
Hentakan kaki, pukulan telapak tangan
di dada dan pinggul, serta petikan jari telah menjadi bagian utama dari
sebagian aksi tari seudati yang memukau.
Seudati telah dikembangkan sejak agama Islam masuk ke
Aceh.Diberitakan muncul pada awal perkembangannya dari Desa Gigieng, Simpang
Tiga, Pidie di bawah bimbingan Syeh Tam dan juga di Desa Didoh yang dibimbing
oleh Syeh Ali Didoh. Tak heran tarian ini lebih populer di daerah Pidie, Aceh
Utara, dan Aceh Timur.
Tarian seudati begitu populer di seluruh tanah Aceh
karena keunikan yang tak berbekal tambur, kecapi, atau pun seruling. Kesenian
ini hanya menggunakan vokal pelantun syair saja yang dipadupadankan dengan
gerakan lincah, harmonis, dan terkadang kaku sebagai perlambang kebesaran dan
keperkasaan seorang pejuang.
Kisah Kakak Beradik yang Menggemakan Aceh dengan Tari Seudati
Adalah Syeh Rih Meureuedu dan kakaknya Syeh
Lah Banguna selalu berlatih di tanah kosong sebagai anak-anak kecil Aceh
yang gigih "bermain" Seudati. Walau ayahnya sering mengejar mereka
saat melarang bermain Seudati, mereka terus membandel dan akhirnya mengantarkan
pada sebuah pertandingan seudati atau disebut tunang. Dengan
menggunakan nama sampan ayahnya, Banguna, Syeh Lah kecil
menamai kelompoknya sebagai Syeh Lah Banguna dan selalu memenangkan tunang.
Bertahun-tahun hingga dewasa kakak beradik ini memainkan
Seudati hingga suatu saat mereka bergabung dalam kelompok Seudati yang menjadi
duta budaya Indonesia. Bermain di hadapan masyarakat Amerika Serikat di 10
negara bagiannya. Syeh Lah Banguna dan adiknya Syeh Rih Meureudu
bermain bersama maestro Seudati lainnya seperti Syeh Lah Geunta, T.
Abu Bakar, Syeh Jafar, Syeh Muktar, Alamsyah, Marzuki,
dan Nurdin Daud.
Masyarakat Amerika mereka sihir dalam ketakjuban hingga
layar panggung ditutup. Tepukan tangan sambil berdiri yang dikenal sebagai standing
ovation adalah lambang apresiasi tertinggi penontonnya telah mereka
rasakan. Tiga kali layar dinaikkan dan ditutup untuk menumpahkan lautan
ketakjuban penonton Amerika kepada Seudati Aceh ini. Hal ini nyaris terulang
dalam ketakjuban penonton di Sevilla, Spanyol, juga Belanda, serta negara-negara
Eropa lainnya. Tidak ketinggalan pula negara di kawasan Asia Tenggara telah
mereka taklukkan penontonnya.
Sejarah tari
piring
Dahulu masyarakat minangkabau menganut kepercayaan kepada
dewa dewi. Tarian piring ini awalnya ditarikan sebagai wujud rasa hormat,
pemujaan dan rasa gembira terhadap para dewa menjelang masa panen
Setelah masuknya islam tarian piring
tidak lagi diperuntunkan sebagai pemujaan. Tetapi lebih cenderung untuk
penyemarak suasana pesta pernikahan hingga saat ini tidak ada yang bisa
memastikan kapan tepatnya tarian ini mulai ada di sumatera barat. Namun banyak
yang memperkirakan bahwa tarian piring sudah ada di tanah melayu sejak sebelum
berkuasanya kerajaan Sriwijaya sekitar 800 tahunyang lalu.
Gerakan
Gerakan tari piring pada umumnya
adalah meletakkan dua buah piring di atas dua
telapak tangan yang kemudian diayun dan diikuti oleh gerakan-gerakan
tari yang cepat, dan diselingi dentingan piring atau dentingan dua cincin di jari penari terhadap piring yang dibawanya. Pada
akhir tarian, biasanya piring-piring yang dibawakan oleh para penari
dilemparkan ke lantai dan kemudian para penari akan menari di atas
pecahan-pecahan piring tersebut[4].
Ragam Gerak tari Piring
Ragam gerak tari Piring ini dilakukan di atas pecahan kaca. Gerakan-gerakan
tersebut adalah sebagai berikut.
·
Gerak pasambahan
Gerak yang dibawakan oleh penari pria bermakna sembah syukur kepada Allah
Swt. serta permintaan maaf kepada penonton yang menyaksikan tari ini agar terhindar dari kejadian-kejadian yang dapat merusak jalannya pertunjukan.
Swt. serta permintaan maaf kepada penonton yang menyaksikan tari ini agar terhindar dari kejadian-kejadian yang dapat merusak jalannya pertunjukan.
·
Gerak singanjuo lalai
Gerak ini dilakukan oleh penari wanita yang melambangkan suasana di hari
pagi, dilakukan dengan gerakan-gerakan lembut.
pagi, dilakukan dengan gerakan-gerakan lembut.
·
Gerak mencangkul
Gerak ini melambangkan para petani ketika sedang mengolah sawah.
·
Gerak menyiang
Gerak ini menggambarkan kegiatan para petani saat membersihkan sampah
sampah yang akan mengganggu tanah yang akan digarap.
·
Gerak membuang sampah
Gerak ini menggambarkan tentang bagaimana para petani mengangkat sisa-sisa
sampah untuk dipindahkan ke tempat lain.
·
Gerak menyemai
Gerak ini melambangkan bagaimana para petani menyemai benih padi yang
akan ditanam.
akan ditanam.
·
Gerak memagar
Gerak ini menggambarkan para petani dalam memberi pagar pada pematang sawah
agar tehindar dari binatang liar.
·
Gerak mencabut benih
Gerak ini menggambarkan bagaimana mencabut benih yang sudah ditanam.
·
Gerak bertanam
Gerak ini menggambarkan bagaimana para petani memindahkan benih yang telah
dicabut.
·
Gerak melepas lelah
Gerak ini menggambarkan bagaimana para petani beristirahat melepas lelah
sesudah melaksanakan pekerjaan mengolah sawah.
sesudah melaksanakan pekerjaan mengolah sawah.
·
Gerak mengantar juadah
Mengantar juadah ini berarti mengantar makanan kepada para petani yang
telah mengolah sawah.
telah mengolah sawah.
·
Gerak menyabit padi
Gerak ini dibawakan oleh penari pria yang menggambarkan bagaimana para
petani di sawah pada saat menyabit padi.
·
Gerak mengambil padi
Gerak ini dibawakan oleh penari wanita saat mengambil padi yang telah
dipotong oleh penari pria.
Pola Lantai tari Piring
Pola lantai yang dipergunakan dalam tari ini adalah lingkaran besat dan
kecil, berbaris, spiral, horizontal, dan vertikal serta penempatan level bawah,
leve sedang serta level atas ditambah dengan pembagian beberapa kelompok.
Berbagai macam gerak tari Piring tersebut dibagi ke dalam tiga fase, yaitu
gerak awal yang terdiri atas gerak pasambahan dan singanjuo lalai. Bagian
tengah terdiri atas gerak mencangkul sampai gerak menampih padi, dan bagian
akhir terdiri atas gerak menginjak pecahan kaca.
Iringan Musik
Alat musik yang digunakan untuk mengiringi tari Piring adalah talempong,
gandang, seruling, dan jentikan jari penari terhadap piring yang dipegang.
Busana Penari
Busana yang digunakan oleh penari tari piring terbagi atas busana untuk penari
pria dan penari wanita.
a)
Busana Penari pria
Deta/destar, yaitu penutup kepala yang tebuat dari
bahan kain songket berbentuk segitiga yang diikatkan di kepala.
b)
Busana penari wanita
Fungsi Tari
Piring
Tari Piring sendiri cukup beragam.
Akan tetapi, pada umumnya tari Piring
di Minangkabau ditampilkan pada upacara adat seperti pengangkatan penghulu, upacara perkawinan, khitanan, dan juga upacara setelah panen, yaitu upacara yang dilakukan bagi orang yang mampu karena panennya berhasil dengan baik.
di Minangkabau ditampilkan pada upacara adat seperti pengangkatan penghulu, upacara perkawinan, khitanan, dan juga upacara setelah panen, yaitu upacara yang dilakukan bagi orang yang mampu karena panennya berhasil dengan baik.
TARI REMO
Tari Remo adalah
salah satu tarian untuk penyambutan tamu agung, yang ditampilkan baik oleh satu
atau banyak penari. Tarian ini berasal dari Provinsi Jawa Timur.
Asal-usul
Tari Remo berasal
dari Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Tarian ini
berasal dari kecamatan Diwek Di desa Ceweng, tarian ini diciptakan oleh warga
yang perprofesi sebagai pengamen tari di kala itu, memang banyak profesi
tersebut di Jombang, kini Tarian ini pada awalnya merupakan tarian yang
digunakan sebagai pengantar pertunjukan ludruk. Namun,
pada perkembangannya tarian ini sering ditarikan secara terpisah sebagai
sambutan atas tamu kenegaraan, ditarikan dalam upacara-upacara kenegaraan,
maupun dalam festival kesenian daerah.
Tata Gerak
Karakteristika yang paling utama
dari Tari Remo adalah gerakan kaki yang rancak dan dinamis. Gerakan ini
didukung dengan adanya lonceng-lonceng yang dipasang di pergelangan kaki.
Lonceng ini berbunyi saat penari melangkah atau menghentak di panggung. Selain
itu, karakteristika yang lain yakni gerakan selendang atau sampur, gerakan
anggukan dan gelengan kepala, ekspresi wajah, dan kuda-kuda penari membuat
tarian ini semakin atraktif.
Tata Busana
Busana dari penari Remo ada berbagai
macam gaya, di antaranya: Gaya Sawunggaling, Surabayan, Malangan, dan
Jombangan. Selain itu terdapat pula busana yang khas dipakai bagi Tari Remo
gaya perempuan.
·
Busana gaya Surabayan
Terdiri atas ikat kepala merah, baju
tanpa kancing yang berwarna hitam dengan gaya kerajaan pada abad ke-18, celana
sebatas pertengahan betis yang dikait dengan jarum emas, sarung batik Pesisiran
yang menjuntai hingga ke lutut, setagen yang diikat di pinggang, serta keris
menyelip di belakang. Penari memakai dua selendang, yang mana satu dipakai di pinggang
dan yang lain disematkan di bahu, dengan masing-masing tangan penari memegang
masing-masing ujung selendang. Selain itu, terdapat pula gelang kaki berupa
kumpulan lonceng yang dilinagkarkan di pergelangan kaki.
·
Busana Gaya Sawunggaling
Pada dasarnya busana yang dipakai
sama dengan gaya Surabayan, namun yang membedakan yakni penggunaan kaus putih
berlengan panjang sebagai ganti dari baju hitam kerajaan.
·
Busana Gaya Malangan
Busana gaya Malangan pada dasarnya
juga sama dengan busana gaya Surabayan, namun yang membedakan yakni pada
celananya yang panjang hingga menyentuh mata kaki serta tidak disemat dengan
jarum.
·
Busana Gaya Jombangan
Busana gaya Jombangan pada dasarnya
sama dengan gaya Sawunggaling, namun perbedaannya adalah penari tidak
menggunakan kaus tetapi menggunakan rompi.
·
Busana Remo Putri
Remo Putri mempunyai busana yang
berbeda dengan gaya remo yang asli. Penari memakai sanggul, memakai mekak hitam
untuk menutup bagian dada, memakai rapak untuk menutup bagian pinggang sampai
ke lutut, serta hanya menggunakan satu selendang saja yang disemat di bahu
bahu.
tari serimpi
tari serimpi adalah tari klasik dari jogjakrta
yang selalu dibawakan oleh 4 penar karena kata serimpi berarti 4 yang
melambangkan 4 unsur dunia yaitu : api, angin, udara dan bumi (tanah). tari
serimpi diperagarakan oleh 4 orang putri ddengan nama peran batak, gulu, dhada
dan buncit yang melambangkan 4 buah tiang pendopo. tari serimpi dikaitkan
dengan kata impi atau mimpi karena gerak tari yang lemah gemulai membuat
penontonnya merasa dibuati ke alam mimpi.
konon, sejarah tari serimpi berawal dari
masa antara 1613-1646 sultan agung memerintah kerajaan mataram. pada 1775
kerajaan mataram pecah menjadi kesultanan yogyakarta dan kesultanan surakarta
dan berimbas terhadap tari serimpi. di kesultanan yogyakarta digolongkan
menjadi serimpi babul layar, serimpi dhempel, serimpi genjung. sedangkan di
kesultanan surakarta digolongkan menjadi serimpi anglir mendung dan serimpi
bondan.
tari serimpi ini baru
dikenal khalayak banyak sejak 1970-an karena tarian ini dianggap sakral dan
hanya dipentaskan dalam lingkungan keraton .
pakaian tari serimpi
pakaian tari serimpi mengalami
perkembangan. jika semula seperti pakaian temanten putri kraton gaya yogyakarta
dengan dodotan dan gelung bokornya sebagai motif hiasan kepala, maka kemudian
beralih ke baju tanpa lengan dengan hiasan kepala yang berjumbai bulu burung
kasuari serta gelung berhiaskan bunga ceplok.
karakteristik penari
karakteristik
pada penari serimpi adalah keris yang diselipkan di depan silang ke kiri.
penggunaan keris pada tari serimpi adalah karena dipergunakan pada adegan
perang, yang merupakan motif karakteristik tari serimpi yang menggambarkan
pertikaian antara dua hal yang bertentangan antara baik dan buruk, antara benar
dan salah, antara akal manusia dan nafsu manusia.
ragam gerak tari
srimpi pandelori
NO
|
ragam gerak
|
1.
|
sembahan sila, seleh, ndhodhok. berdiri,
panggel, nggrudha (1x), mayuk jinjit. nggrudha (3x) seblak
noleh.
|
2.
|
sendhi gedrug kiri
ajeng-ajengan.
|
3.
|
lampah sekar tawing kanan, tawing
kiri, kengser, tekuk tangan kiri encot, gedrug kanan, pendhapan
cangkol udhet (kiri).
|
4.
|
seleh kanan, sendhi minger adu kanan,
cathok kanan-kipat. pudhak mekar (seduwa kiri, kanan
methentheng), mancat kanan encot 2x, sendhi ngracik
adhep-dhepan, gedrug kanan maju, gedrug kiri seleh.
|
5
|
tinting kanan (diagonal) encot, tinting
kiri (tukar tempat), nglereg cathok kanan, kipat.
|
6.
|
mandhe udhet
|
7.
|
trisik (kembali tempat hadap belakang), maju
kanan kipat kanan.
|
8.
|
ulap-ulap encot lamba, mancad kiri,
sendhi minger.
|
9.
|
ngenceng encot 1x,
sendhi maju kiri, minger, mayuk jinjit (berhadapan). gedrug
kanan nglereg, gedrug kiri ambil keris, gedrug kanan
|
10.
|
pendhapan minger kanan
seleh tangan kanan, usap suryan dg. keris, mancad kiri
|
11.
|
trisik puletan, kembali tempat (berdekatan),
nyuduk, encot-encot, nyuduk.
|
12
|
pendhapan puletan, pindah
tempat
|
13.
|
nyuduk, kengser ndhesek, 1-2 kanan
ke, 3-4 ke kiri
|
14.
|
2 dan 3 nyuduk, 1 dan 4 endha, 2
mengejar1, 3 mengejar 4, trisik puletan, kembali tempat
berdekatan, nyuduk, mundur bersama.
|
15.
|
maju kiri seleh kiri, gedrug kanan
mancad kanan encot-encot,ingsut, encot-encot mancad gedrug kanan nglereg
kanan, gedrug kiri nyarungken keris.
|



Tidak ada komentar:
Posting Komentar